Pada
zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah
kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja
tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran
Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan.
Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah
peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya
berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat
seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk
jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.
“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.
“Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya. Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang. “Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”. “Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.
“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.
“Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya. Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang. “Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”. “Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.
Pada
suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana.
“Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping.
Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya
adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk
mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh
ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena
telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak
kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat
memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. “Ikat kepala ini
harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa.
Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan.
Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan.
Tatkala
Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan
oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. “Tuangku, Raden
Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan
sendiri,” kata lelaki itu. “Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah
ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik
lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya. Setelah mengucapkan
kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius.
Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun
segera pulang ke istana.
Setelah
tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya.
Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian
compang-camping yang telah menemui di hutan. “Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat
kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong
kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya. “
Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang.”Jangan asal tuduh. Adinda
sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang
lelaki!” jawab Surati. Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa
istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum
nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.
Raden
Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di
sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki
compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang
pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang
dijelaskan suaminya. “Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang
memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar
Raden Banterang luluh hatinya. Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya
akan mencelakakan dirinya.
“Kakanda
suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan
Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal
pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati
mengingatkan.
“Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolah!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong.. “Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati. Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang.
“Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolah!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong.. “Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati. Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang.
Tidak
berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai.
Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar. “Istriku
tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang.
Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah
terlambat.
Sejak
itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu
artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota
Banyuwangi.
Sumber : http://legendakita.wordpress.com/2008/09/03/asal-usul-kota-banyuwangi/
Sumber : http://legendakita.wordpress.com/2008/09/03/asal-usul-kota-banyuwangi/
Naskah Drama :
Asal Usul Kota Banyuwangi
Babak 1
Asal Usul Kota Banyuwangi
Babak 1
Pada
zaman dahulu, di kawasan ujunga Provinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan
besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut
mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang yang sangat gemar
berburu. Pada suatu pagi, Raden Banterang akan pergi berburu ke hutan.
Raden Banterang : “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu.”
Para Abdi : “Baik, Tuanku.”
Ketika Raden Banterang berjalan, ia melihat seekor kijang melintas didepannya. Ia pun berusaha mengejar kijang itu sehingga terpisah dari para abdinya.
Raden Banterang : “Kemana seekor kijang tadi? Akan ku cari terus sampai dapat.”
Ia pun menerobos semak belukar dan pepohonan di hutan. Namun, kijang itu tidak ditemukan.
Babak 2
Setelah lama berjalan, Raden Banteang tiba di sebuah sungai yang sangat jernih airnya.
Raden Banterang : “Hemm, segar sekali air sungai ini.” (sambil meminum air sungai)
Setelah minum, ia meninggalkan sungai. Namun, baru beberapa langkah berjalan, ia tiba – tiba dikejutkan dengan adanya kedatangan seorang gadis cantik jelita.
Raden Banterang : “Ha ? Seorang gadis cantik jelita ? Benarkah ia seorang manusia ? Atau jangan – jangan ia setan penunggu hutan.” (bergumam didalam hati)
Raden Banterang pun memberanikan diri mendekati gadis itu.
Raden Banterang : “Anda manusia tau penunggu hutan ?”
Surati : “Saya manusia.” (menjawab sambil tersenyum)
Raden Banterang : “Siapakah anda? Dan darimana kamu berasal ?”
Surati : “Nama saya Surati. Saya berasal dari Kerajaan Klungkung.”
Raden Banterang : “Mengapa anda bisa berada di tempat seperti ini ?”
Surati : “Saya berada di tempat ini untuk menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan.”
Raden Banterang : “Kasihan sekali. Bersediakah anda ikut dengan saya pulang ke istana saya ?”
Surati : “Baiklah kalau begitu, saya bersedia.”
Lalu, mereka pulang ke istana. Tak lama kemudian, Raden Banterang dan Surati pun menikah dan membangun keluarga yang bahagia.
Babak 3
Pada suatu hari, Putri Raja Klungkung berjalan – jalan sendirian ke luar istana. Kemudian, ada seorang laki – laki yang berpakaian copang – camping memanggilnya.
Rupaksa : “Surati ! Surati !!”
Surati : “Siapakah anda ?” (bertanya sambil mengamati wajah laki – laki itu)
Rupaksa : “Ini aku, Surati. Kakak kandungmu, Rupaksa.”
Surati : “Oh. Ada tujuan apa kakak datang mengunjungiku ?”
Rupaksa : “Begini Surati, tujuanku datang kesini adalah untuk mengajakmu membalas dendam.”
Surati : “Membalas dendam ?”
Rupaksa : “Ya. Kita harus membalas dendam. Raden Banterang lah yang telah membunuh ayah kita, Surati.”
Surati : “Maaf, kakak. Tapi aku tidak bisa melakukannya.”
Rupaksa : “Apa ?! Mengapa ?”
Surati : “Aku sudah diperisteri Raden Banterang.”
Rupaksa : “Apa ?! Kau harus membalas dendam Surati !Dia telah membunuh ayah kita !”
Surati : “Tidak bisa. Aku telah berhutang budi padanya karena ia telah menolongku.”
Rupaksa : “Ya sudah, kalau itu memang maumu. Tapi sebelumnya, aku ada titipan untukmu. Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu.” (berkata sambil memberikan sebuah ikat kepala kepada Surati)
Setelah itu, Rupaksa langsung pergi dari tempat itu. Pertemuan Surati dan Rupaksa tidak diketahui oleh Raden Banterang karena saat itu, ia sedang pergi berburu di hutan.
Raden Banterang : “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu.”
Para Abdi : “Baik, Tuanku.”
Ketika Raden Banterang berjalan, ia melihat seekor kijang melintas didepannya. Ia pun berusaha mengejar kijang itu sehingga terpisah dari para abdinya.
Raden Banterang : “Kemana seekor kijang tadi? Akan ku cari terus sampai dapat.”
Ia pun menerobos semak belukar dan pepohonan di hutan. Namun, kijang itu tidak ditemukan.
Babak 2
Setelah lama berjalan, Raden Banteang tiba di sebuah sungai yang sangat jernih airnya.
Raden Banterang : “Hemm, segar sekali air sungai ini.” (sambil meminum air sungai)
Setelah minum, ia meninggalkan sungai. Namun, baru beberapa langkah berjalan, ia tiba – tiba dikejutkan dengan adanya kedatangan seorang gadis cantik jelita.
Raden Banterang : “Ha ? Seorang gadis cantik jelita ? Benarkah ia seorang manusia ? Atau jangan – jangan ia setan penunggu hutan.” (bergumam didalam hati)
Raden Banterang pun memberanikan diri mendekati gadis itu.
Raden Banterang : “Anda manusia tau penunggu hutan ?”
Surati : “Saya manusia.” (menjawab sambil tersenyum)
Raden Banterang : “Siapakah anda? Dan darimana kamu berasal ?”
Surati : “Nama saya Surati. Saya berasal dari Kerajaan Klungkung.”
Raden Banterang : “Mengapa anda bisa berada di tempat seperti ini ?”
Surati : “Saya berada di tempat ini untuk menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan.”
Raden Banterang : “Kasihan sekali. Bersediakah anda ikut dengan saya pulang ke istana saya ?”
Surati : “Baiklah kalau begitu, saya bersedia.”
Lalu, mereka pulang ke istana. Tak lama kemudian, Raden Banterang dan Surati pun menikah dan membangun keluarga yang bahagia.
Babak 3
Pada suatu hari, Putri Raja Klungkung berjalan – jalan sendirian ke luar istana. Kemudian, ada seorang laki – laki yang berpakaian copang – camping memanggilnya.
Rupaksa : “Surati ! Surati !!”
Surati : “Siapakah anda ?” (bertanya sambil mengamati wajah laki – laki itu)
Rupaksa : “Ini aku, Surati. Kakak kandungmu, Rupaksa.”
Surati : “Oh. Ada tujuan apa kakak datang mengunjungiku ?”
Rupaksa : “Begini Surati, tujuanku datang kesini adalah untuk mengajakmu membalas dendam.”
Surati : “Membalas dendam ?”
Rupaksa : “Ya. Kita harus membalas dendam. Raden Banterang lah yang telah membunuh ayah kita, Surati.”
Surati : “Maaf, kakak. Tapi aku tidak bisa melakukannya.”
Rupaksa : “Apa ?! Mengapa ?”
Surati : “Aku sudah diperisteri Raden Banterang.”
Rupaksa : “Apa ?! Kau harus membalas dendam Surati !Dia telah membunuh ayah kita !”
Surati : “Tidak bisa. Aku telah berhutang budi padanya karena ia telah menolongku.”
Rupaksa : “Ya sudah, kalau itu memang maumu. Tapi sebelumnya, aku ada titipan untukmu. Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu.” (berkata sambil memberikan sebuah ikat kepala kepada Surati)
Setelah itu, Rupaksa langsung pergi dari tempat itu. Pertemuan Surati dan Rupaksa tidak diketahui oleh Raden Banterang karena saat itu, ia sedang pergi berburu di hutan.
Babak 4
Tatkala Raden Banterang sedang berburu di tengah hutan, ia dikejutkan dengan kedatangan seorang laki – laki berpakaian compang – camping.
Rupaksa : “Tuanku, Raden Banterang. Keselamatan tuan terancam bahaya yang direncanakan isteri tuan sendiri.”
Raden Banterang : “Apa ?! Kamu jangan menuduh yang tidak – tidak kepada isteri saya.”
Rupaksa : “Kalau tuan tidak percaya, tuan bisa melihat buktinya dengan melihat sebuag\h ikat kepala yang diletakkan dibawah tempat peaduannya.”
Raden Banterang : “Ikat kepala ? Milik siapa itu ?”
Rupaksa : “Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh tuan.”
Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana.
Babak 5
Sesampainya di istana, Raden Banterang lansung menuju ke peraduan isterinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan lelaki yang ditemuinya di hutan tadi. Raden Banterang pun menemukan ikat kepala itu.
Raden Banterang : “Ha ! Ini dia. Benar kata laki – laki itu. Surati !!Surati !!”
Surati : “Ada apa ?”
Raden Banterang : “Kau merencanakan mau membunuhku bukan ?”
Surati : “Apa ? Tidak. Tidak ada sekali pun keinginan dinda untuk membunuh.”
Raden Banterang : “Ikat kepala ini sebagai bukti ! Kau meminta tolong kepada pemilik ikat kepala ini untuk membunuhku. Begitukah balasanmu padaku ?”
Surati : “Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi meminta tolong kepada seorang lelaki !!”
Raden Banterang : “Aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan !! Sekarang ikut saya !!”
Raden Banterang berniat menenggelamkan isterinya di sebuah sungai.
Babak 6
Setelah tiba disungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuannya dengan seorang laki – laki compang – camping saat berburu di hutan.
Raden Banterang : “Aku tahu semua yang akan kamu lakukan dari seorang laki – laki yang berpakaian compang – camping di hutan.”
Surati : “Lelaki compang – camping ?”
Raden Banterang : “Ya ! Dialah yang mengatakan bahwa kau ingin membunuhku !!”
Surati : “Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda.”
Raden Banterang : “Aku tetap tidak percaya dengan apa yang kamu katakan, Surati !!”
Surati : “Kakanda suamiku ! Bukalah hati dan perasaan Kakanda ! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda yang bernama Rupaksa itu.”
Raden Banterang : “Aku tidak ingin mendengar alasan lain lagi darimu !”
Surati : “Pupaksalah yang akan membunuh Kakanda ! Adinda dimintai bantuan, tetapi Adinda tolak !”
Raden Banterang : “Kau berbohong !”
Surati : “Kakanda ! Jika air sungai ini mejadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah ! Tetapi, jika air ini tetap keruh dan berbau busuk, berarti Adinda bersalah !”
Raden Banterang : “Kau mengada – ada, Surati !!” (berkata sambil menghunuskan keris kearah Surati)
Kemudian, Surati melompat ke tengah sungai dan menghilang. Tak lama kemudian bau nan harum merebak di sekitar sungai. Raden Banterang terkejut.
Raden Banterang : “Isteriku tidak bersalah ! Air sungai ini harum sekali baunya !”
Ia menyesal dan meratapi kematian isterinya dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.
Sejak saat itu, sungai harum baunya itu dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air, dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.
Tatkala Raden Banterang sedang berburu di tengah hutan, ia dikejutkan dengan kedatangan seorang laki – laki berpakaian compang – camping.
Rupaksa : “Tuanku, Raden Banterang. Keselamatan tuan terancam bahaya yang direncanakan isteri tuan sendiri.”
Raden Banterang : “Apa ?! Kamu jangan menuduh yang tidak – tidak kepada isteri saya.”
Rupaksa : “Kalau tuan tidak percaya, tuan bisa melihat buktinya dengan melihat sebuag\h ikat kepala yang diletakkan dibawah tempat peaduannya.”
Raden Banterang : “Ikat kepala ? Milik siapa itu ?”
Rupaksa : “Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh tuan.”
Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana.
Babak 5
Sesampainya di istana, Raden Banterang lansung menuju ke peraduan isterinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan lelaki yang ditemuinya di hutan tadi. Raden Banterang pun menemukan ikat kepala itu.
Raden Banterang : “Ha ! Ini dia. Benar kata laki – laki itu. Surati !!Surati !!”
Surati : “Ada apa ?”
Raden Banterang : “Kau merencanakan mau membunuhku bukan ?”
Surati : “Apa ? Tidak. Tidak ada sekali pun keinginan dinda untuk membunuh.”
Raden Banterang : “Ikat kepala ini sebagai bukti ! Kau meminta tolong kepada pemilik ikat kepala ini untuk membunuhku. Begitukah balasanmu padaku ?”
Surati : “Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi meminta tolong kepada seorang lelaki !!”
Raden Banterang : “Aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan !! Sekarang ikut saya !!”
Raden Banterang berniat menenggelamkan isterinya di sebuah sungai.
Babak 6
Setelah tiba disungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuannya dengan seorang laki – laki compang – camping saat berburu di hutan.
Raden Banterang : “Aku tahu semua yang akan kamu lakukan dari seorang laki – laki yang berpakaian compang – camping di hutan.”
Surati : “Lelaki compang – camping ?”
Raden Banterang : “Ya ! Dialah yang mengatakan bahwa kau ingin membunuhku !!”
Surati : “Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda.”
Raden Banterang : “Aku tetap tidak percaya dengan apa yang kamu katakan, Surati !!”
Surati : “Kakanda suamiku ! Bukalah hati dan perasaan Kakanda ! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda yang bernama Rupaksa itu.”
Raden Banterang : “Aku tidak ingin mendengar alasan lain lagi darimu !”
Surati : “Pupaksalah yang akan membunuh Kakanda ! Adinda dimintai bantuan, tetapi Adinda tolak !”
Raden Banterang : “Kau berbohong !”
Surati : “Kakanda ! Jika air sungai ini mejadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah ! Tetapi, jika air ini tetap keruh dan berbau busuk, berarti Adinda bersalah !”
Raden Banterang : “Kau mengada – ada, Surati !!” (berkata sambil menghunuskan keris kearah Surati)
Kemudian, Surati melompat ke tengah sungai dan menghilang. Tak lama kemudian bau nan harum merebak di sekitar sungai. Raden Banterang terkejut.
Raden Banterang : “Isteriku tidak bersalah ! Air sungai ini harum sekali baunya !”
Ia menyesal dan meratapi kematian isterinya dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.
Sejak saat itu, sungai harum baunya itu dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air, dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar