1. Tipe-Tipe Masyarakat dalam Menyikapi Perubahan
Dalam menghadapi berbagai perubahan, sikap masyarakat antara satu dan
lainnya berbeda. Ada sebagian masyarakat yang menolak perubahan, ada pula yang
menyikapinya dengan lebih fleksibel, yaitu dengan mengubah susunan
lembaga-lembaga kemasyarakatannya dengan maksud untuk menerima unsur-unsur
baru. Adakalanya unsur-unsur baru dan lama tersebut bertentangan sehingga
berpengaruh pada nilai dan norma masyarakat. Keadaan ini akan menimbulkan
ketegangan di antara para warga masyarakat yang tidak mempunyai saluran ke arah
pemecahan masalah atau penyelesaian. Apabila ketidakseimbangan tersebut dapat
dipulihkan kembali setelah perubahan terjadi, terjadilah penyesuaian. Apabila
kondisi tersebut berlangsung sebaliknya terjadilah disintegrasi sosial.
a. Melakukan Penyesuaian terhadap
Perubahan
Berbagai perubahan yang terjadi dalam masyarakat menuntut adanya penyesuaian.
Bentuk dari penyesuaian yang dapat dilakukanoleh warga masyarakat dalam
menghadapi perubahan sosial sebagai berikut.
1) Melakukan Asimilasi
Asimilasi adalah suatu proses penerimaan unsur-unsur kebudayaan
dari luar yang bercampur dengan unsur-unsur kebudayaan lokal sehingga menjadi
unsur kebudayaan baru yang
berbeda. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam
proses asimilasi.
Pertama, masyarakat harus dapat menghargai
unsurunsur asing dan kebudayaan yang dibawanya. Tidak semua unsur-unsur asing
berdampak negatif. Banyak hal yang
dapat kita ambil manfaatnya dari unsur-unsur asing tersebut. Kedua,
adanya toleransi antarkebudayaan yang berbeda. Toleransi adalah sikap
menghargai kebudayaan atau pendapat yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian
sendiri. Adanya toleransi antarkebudayaan memungkinkan kebudayaan-kebudayaan
yang berbeda dapat hidup berdampingan secara damai. Masyarakat yang memiliki
rasa toleransi tinggi cenderung mampu untuk menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan yang ada. Ketiga, adanya sikap terbuka. Masyarakat
yang senantiasa menghadapi berbagai perubahan yang terjadi
dengan sikap terbuka, akan
dapat hidup dengan sejahtera. Hal-hal yang dapat menghambat asimilasi antara
lain rendahnya pengetahuan masyarakat tentang kebudayaan lain,
ketakutan terhadap kebudayaan atau unsur-unsur baru, sikap superior
yang menilai tinggi kebudayaannya sendiri, perbedaan kepentingan, dan letak
geografis yang terisolasi.
2) Menerima Unsur-Unsur Baru
Keseimbangan atau harmoni dalam masyarakat merupakan keadaan yang
diidam-idamkan. Dengan keseimbangan, seluruh unsur-unsur kemasyarakatan akan
benar-benar berfungsi dan saling mengisi. Setiap terjadi gangguan terhadap
keadaan seimbang tersebut, masyarakat dapat menolaknya atau mengubah susunan lembaga-lembaga
kemasyarakatan dengan maksud untuk menerima suatu unsur baru. Sebagai contoh,
dewasa ini kebaya menjadi tren kembali untuk dijadikan busana resmi kaum muda.
Sebelumnya, ada rasa keengganan untuk mengenakan busana tersebut karena menganggap
kebaya merupakan pakaian ”orang dahulu” yang sudah ketinggalan zaman. Namun,
melalui berbagai modifikasi akhirnya kebaya menjadi pakaian yang digemari oleh
kaum muda dan seolah menjadi busana wajib untuk menghadiri acara-acara resmi.
Dapatkah kamu menunjukkan contoh-contoh lainnya? Coba
ungkapkan di depan kelas!
3) Melakukan Akomodasi
Menurut Soerjono Soekanto, istilah akomodasi digunakan dalam dua
arti, yaitu sebagai suatu keadaan dan proses. Sebagai suatu
keadaan, akomodasi diartikan sebagai kenyataan adanya
suatu keseimbangan hubungan antarindividu atau kelompok dalam berinteraksi.
Sebagai suatu proses, akomodasi dimaksudkan sebagai usaha manusia untuk
meredakan atau menghindari konflik dalam rangka mencapai kestabilan. Dalam arus
perubahan sosial yang sangat deras, muncul tuntutan dan penyesuaian-penyesuaian
baru. Apabila tuntutan dan
penyesuaian baru itu kurang atau bahkan tidak dapat diterima dan tidak
dilakukan, akan menimbulkan guncangan sosial dalam masyarakat. Guncangan-guncangan
tersebut membawa potensi bagi munculnya disintegrasi. Proses akomodasi
sebenarnya merupakan upaya untuk mencari terobosan terhadap banyaknya tuntutan
dan pertentangan dalam masyarakat. Secara sosiologis, akomodasi sebagai upaya penyelesaian
konflik memiliki tujuan yang berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapi,
misalnya untuk mengurangi konflik antarindividu atau kelompok sebagai akibat
perbedaan paham, untuk mencegah meledaknya konflik untuk sementara waktu, dan agar
terjadi kerja sama antarkelompok sosial yang saling terpisah
akibat faktor sosial psikologis.
b. Mengalami Disintegrasi Sosial
Dalam ilmu sosiologi, disintegrasi diartikan sebagai proses
terpecahnya suatu kesatuan menjadi bagian-bagian kecil yang terpisah satu sama lain.
Disintegrasi sosial adalah suatu proses terpecahnya suatu kelompok sosial
menjadi beberapa unit sosial yang terpisah-pisah satu sama lain. Disintegrasi
sosial terjadi akibat hilangnya ikatan bersama yang mempersatukan anggota
kelompok satu dengan yang lain. Ikatan bersama tersebut dapat berupa
nilai-nilai yang dijunjung tinggi seperti norma dan nilai-nilai dasar yang
ditaati bersama atau juga berupa sebuah ikatan yang berbentuk organisasi
kelembagaan yang menyatukan anggota masyarakat.
1) Bentuk-Bentuk Disintegrasi Akibat Perubahan Sosial
Proses disintegrasi sesungguhnya dapat kita jumpai di sekitar
lingkungan kita dalam kehidupan sehari-hari. Gejala disintegrasi di sekitar
kita berhubungan dengan masalah masalah sosial seperti pertengkaran
antaranggota keluarga, persengketaan antaranggota masyarakat, percekcokan antartetangga,
dan perebutan pengaruh. Permasalahan
tersebut jika tidak segera diselesaikan akan memicu peristiwa lain
yang lebih besar. Sebagai contoh, pangkal peristiwa perang suku di Mimika Papua
pada tahun 2007 adalah seorang istri anggota Koramil Mimika, mengalami luka-luka
akibat diterjang anak panah yang diduga milik warga Kampung Kwamki Lama Bawa.
Akibatnya, warga melakukan penyerangan terhadap warga Kwamki Lama Bawa yang
mengakibatkan dua orang meninggal dunia.
Dalam lingkup yang lebih besar lagi, gejala disintegrasi dapat pula
terjadi di lingkungan sebuah bangsa. Sebagai contoh, terjadinya konflik
antaretnis dan munculnya gerakan-gerakan separatis seperti yang terjadi di Aceh
dan Papua. Masalah-masalah sosial tersebut
bisa terjadi karena adanya perubahan sosial yang mengancam integritas
suatu kelompok.
Di Indonesia, bentuk-bentuk disintegrasi akibat adanya perubahan
sosial antara lain sebagai berikut.
a) Pergolakan Daerah
Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, tercatat beberapa
peristiwa pergolakan daerah yang terjadi. Pergolakan tersebut terjadi karena
adanya kesenjangan ekonomi, kebijakan
politik, ketidakadilan, masalah etnis, masalah agama, dan
lainlain. Contoh pergolakan daerah yang terjadi di Indonesia antara lain
pemberontakan PRRI/Permesta, RMS, Andi Azis, DI/TII, gerakan separatis GAM atau
beberapa peristiwa kerusuhan di Kupang, Poso, Sampit, dan Papua. Berbagai
peristiwa pergolakan di Indonesia tersebut merupakan sebuah konsekuensi dari
terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersifat majemuk.
b) Demonstrasi
Demonstrasi menjadi suatu fenomena yang sering kita jumpai pada
era reformasi seperti saat ini. Perubahan drastis dalam bidang ketatanegaraan
yang terjadi pada era reformasi
membawa perubahan pula dalam perilaku masyarakat. Sebelum
reformasi bergulir, rakyat tidak dapat langsung menyampaikan segala
aspirasinya. Protes dalam bentuk demonstrasi
ditindak keras oleh pemerintah Orde Baru. Namun, saat ini
demonstrasi menjadi sebuah hal yang dapat dijumpai setiap saat, akibat adanya
iklim demokrasi pada era reformasi.
c) Kriminalitas
Perkembangan teknologi ternyata juga telah menyebabkan perubahan
tindak kriminal. Saat ini tindak kriminal tidak hanya sekadar aksi pencopetan
di jalan-jalan raya, perampokan,
pencurian di lingkungan perumahan, dan lain-lain. Kemajuan teknologi
telah mengakibatkan perubahan modus operasi para pelaku kejahatan. Kejahatan
dapat dilakukan dengan canggih
sehingga sulit untuk dilacak. Penipuan melalui telepon sering ditemui.
Kamu tentu pernah mendengar seseorang menyerahkan sejumlah uang sebagai pajak
karena ia menang undian.
Undian akan diantar jika sang korban telah menyerahkan sejumlah
besar uang. Setelah sang korban mentransfer uang, ternyata hadiah undian yang
diharapkan tidak kunjung diterima. Itulah salah satu bentuk penyalahgunaan perkembangan
teknologi dalam bidang kriminalitas.
d) Kenakalan Remaja
Menurut Fuad Hassan, kenakalan remaja adalah sebuah perbuatan
antisosial yang dilakukan oleh seorang remaja yang apabila dilakukan oleh orang
dewasa dapat dikategorikan sebagai tindak kejahatan (crime). Secara
umum, kenakalan remaja disebabkan oleh hal-hal berikut ini. Pertama, disfungsi
keluarga. Disfungsi keluarga dapat diartikan sebagai sebuah kondisi ketika
hubungan antaranggota keluarga kurang harmonis atau mengalami keretakan
sehingga
remaja kurang mendapat cukup kasih sayang dari keluarga. Dengan
demikian, fungsi keluarga sebagai tempat mencurahkan kasih sayang antaranggota
keluarga menjadi kabur.
Kedua, kurangnya pendidikan agama. Pendidikan agama sangat penting bagi
penanaman kaidah moral dalam diri seorang anak. Jika pendidikan agama tidak diperoleh
seorang anak, perkembangannya ke arah kedewasaan menjadi tidak seimbang.
Akibatnya, setelah beranjak dewasa, seorang anak akan mengalami kekeringan
spiritual dan moral. Ia cenderung tidak dapat membedakan tindakan benar atau
salah dan baik atau buruk.
Ketiga, seringnya melihat peristiwa kekerasan. Tayangan televisi bisa jadi
merupakan pengantar paling efektif bagi peristiwa-peristiwa kekerasan.
Stasiunstasiun televisi banyak menyuguhkan adegan-adegan kekerasan yang
sebenarnya berakibat buruk pada perkembangan pribadi remaja. Jika hal ini tidak
segera diantisipasi, seorang remaja akan mendapatkan pengaruh negatif dari
tayangan kekerasan di layar televisi.
Keempat, lingkungan pergaulan yang tidak kondusif.
Lingkungan pergaulan membawa pengaruh besar terhadap sifat, perilaku dan
kepribadian seorang remaja. Apabila lingkungan pergaulan seorang remaja bersifat
positif, remaja tersebut akan berkepribadian
positif pula. Sebaliknya jika lingkungan pergaulan remaja bersifat
negatif, perilakunya pun akan cenderung negatif. Sebagai contoh, seseorang
dalam geng yang sering melakukan tindakan yang menyimpang, cenderung akan
mengikuti tindakan sama dengan anggota gengnya yang lain. Kenakalan remaja
merupakan bentuk tindakan remaja yang meresahkan masyarakat dan remaja itu
sendiri. Energi dan potensi yang seharusnya dapat disalurkan untuk
kegiatankegiatan positif demi meraih prestasi dalam bidang tertentu, menjadi
sia-sia. Lebih jauh lagi, kenakalan remaja yang juga meresahkan anggota
keluarga yang lain dapat mengarah pada terjadinya gejala disintegrasi dalam
lingkungan keluarga. Hubungan antaranggota keluarga menjadi tidak harmonis akibat
adanya kenakalan remaja.
2) Proses Disintegrasi Akibat Perubahan Sosial
Sejauh mana perubahan sosial dapat menimbulkan ketidakserasian,
tergantung pada erat tidaknya integrasi antara unsur-unsur kebudayaan yang ada
dalam masyarakat tersebut.
Dalam masyarakat yang terintegrasi secara kuat, setiap anggota masyarakat
telah melakukan konformitas, yaitu melalui proses penyesuaian diri dengan cara
mengindahkan kaidah dan nilai masyarakat. Sebaliknya, dalam masyarakat yang
mengalami disintegrasi sosial, sering anggota-anggotanya menyimpang dari kaidah
dan nilai-nilai masyarakat. Beberapa masyarakat yang memiliki daya adaptasi
tinggi, mampu dengan cepat melakukan
pengorganisasian kembali fungsi dan peran dari
struktur yang dianggap kurang sesuai. Sebaliknya, masyarakat
yang kurang mampu beradaptasi secara cepat, pada umumnya
akan kesulitan mengorganisasikan fungsi dan peran dari
struktur yang kurang sesuai tersebut.
Proses disintegrasi sebagai akibat perubahan sosial dapat terjadi dalam
beberapa peristiwa sebagai berikut.
a) Cultural Lag
Salah satu teori terkenal dalam sosiologi mengenai perubahan dalam
masyarakat adalah dikenalkannya istilah cultural lag. Teori ini
dikemukakan oleh William F. Ogburn. Dalam teori ini, disebutkan bahwa pertumbuhan
kebudayaan tidak selalu sama cepatnya secara keseluruhan, ada bagian yang
tumbuh dengan lambat. Perbedaan antara taraf kemajuan dari berbagai bagian
dalam kebudayaan dari suatu masyarakat ini dinamakan cultural lag (ketinggalan
kebudayaan). Ketinggalan yang mencolok terlihat pada penguasaan teknologi
seperti komputer. Komputer merupakan hasil dari perkembangan teknologi di
negara-negara yang telah memiliki kebudayaan yang maju. Penggunaan alat
tersebut harus pula
disertai dengan ketersediaan peralatan-peralatan khusus untuk memperbaiki
apabila rusak, adanya aliran listrik yang mempunyai tegangan tertentu yang
konstan, dan lain-lain. Jika
hal-hal tersebut belum tersedia, terjadilah cultural lag karena
kurangnya persiapan dalam menyambut teknologi baru. Dari deskripsi di atas
dapat diketahui bahwa secara umum
terjadinya cultural lag disebabkan oleh faktor-faktor
berikut ini.
Pertama, kurangnya
kemampuan daya pikir dalam sektor yang harus menyesuaikan diri dengan
perkembangan sosial.
Kedua, adanya hambatan-hambatan terhadap perkembangan pada umumnya.
Ketiga, heterogenitas masyarakat. Dalam hal ini berarti ada beberapa
golongan masyarakat yang memang sudah siap mental menerima perubahan dari
masyarakat luar dan sebaliknya ada sebagian masyarakat yang belum siap menerima
perubahan tersebut. Keempat, kurangnya kontak dengan budaya material
masyarakat lain. Hal ini bisa juga berarti bahwa pihak pengambil kebijakan
dalam masyarakat perlu meningkatkan kontak langsung dengan budaya material dari
masyarakat lain. Tidak mudah mengatasi persoalan cultural lag. Paling
tidak, alam pikiran manusia harus mengalami perubahan terlebih dahulu, yaitu
dari alam pikiran
tradisional ke alam pikiran modern. Alam pikiran modern ditandai
oleh beberapa hal, misalnya sifatnya yang terbuka terhadap pengalaman baru,
terbuka terhadap perubahan dan pembaruan, kemampuan untuk berpikir luas dan
pendidikan yang mencukupi. Semakin terdidik seseorang itu, akan semakin terbuka
pula daya pikirnya.
b) Mestizo Culture
Mestizo culture (percampuran kebudayaan)
merupakan suatu proses percampuran unsur kebudayaan yang satu dengan unsur
kebudayaan lainnya yang mempunyai warna dan sifat
yang berbeda. Ciri dari perubahan sosial ini adalah sifatnya formal
dan hanya dapat meniru bentuknya, tetapi tidak mengerti arti sesungguhnya. Masyarakat
desa yang mulai tersentuh modernisasi biasanya gemar memiliki benda-benda hasil
teknologi modern, seperti mesin cuci, komputer, dan kulkas sebagaimana layaknya
gaya hidup masyarakat kota yang sering mereka lihat dari tayangan televisi.
Benda-benda ini mereka beli hanya untuk menaikkan status sosial agar dianggap
sebagai orang modern. Lebih parah lagi jika ternyata mereka tidak mampu menggunakan
barang-barang teknologi tersebut dan tidak mengetahui kegunaan dan manfaatnya. Dari
contoh di atas terlihat bahwa perubahan yang terjadi merupakan perubahan suatu
hal baru yang dianggap dapat menaikkan status sosial sebagai lambang pola hidup
modern, tanpa menggunakan kontrol. Padahal norma yang dikandung masih
tradisional, hanya bentuk luarnya yang modern. Inilah yang dimaksud dengan mestizo
culture.
Mestizo culture ditandai dengan meningkatnya
pola konsumsi masyarakat serta terjadinya demonstrasi efek (pamer kekayaan)
yang semakin besar karena pengaruh iklan-iklan
produk modern. Kondisi psikologis orang yang terkait dalam gejala mestizo
culture ini mudah mengalami keguncangan dan ketidakpuasan.
c) Anomi
Perubahan sosial dapat menyebabkan terjadinya suatu keadaan saat
norma-norma atau nilai-nilai sosial yang dianut oleh masyarakat menjadi pudar
padahal norma-norma atau nilai-nilai baru yang akan menggantikannya belum
terbentuk. Keadaan ini merupakan suatu masa kritis dalam masyarakat yang
disebut anomi. Jadi, anomi adalah suatu keadaan saat tidak ada pegangan
terhadap norma yang baik dan apa yang buruk bagi masyarakat. Perubahan sosial
dalam masyarakat memang menimbulkan berbagai dampak yang mempengaruhi perilaku
masyarakat dalam menyikapi perubahan-perubahan tersebut. Tipe-tipe masyarakat
dalam menghadapi perubahan sosial beraneka ragam. Keragaman ini berhubungan
erat dengan kesiapan masyarakat yang bersangkutan dalam menghadapi
perubahanperubahan tersebut. Apabila masyarakat siap menghadapi perubahan,
perubahan-perubahan tersebut akan membawa kemajuan bagi kebudayaan masyarakat.
Jika kondisi yang terjadi sebaliknya, akan terjadi ketidakharmonisan dalam kehidupan
bermasyarakat.
2. Perilaku Masyarakat Akibat Perubahan Sosial Budaya
Semua kelompok masyarakat tidak pernah hidup berdiri sendiri.
Mereka senantiasa berada di tengah masyarakat lain dan mengadakan kontak dengan
masyarakat lain. Kontak yang terjadi secara terus-menerus dan bersifat konstan
akan menyebabkan terjadinya perubahan sosial secara berangsurangsur. Perubahan-perubahan
yang diakibatkan oleh faktor dari luar ini dapat berdampak positif atau
negatif. Apabila perubahan itu terjadi dalam situasi yang aman dan tertib tanpa
menimbulkan kegoyahan pada masyarakat, maka akan terjadi perubahan yang
bersifat positif. Apabila suatu perubahan menimbulkan kegoyahan atau konflik
dalam masyarakat, ini berarti perubahan tersebut bersifat negatif.
a. Modernisasi sebagai Wujud Perubahan Sosial
Apabila seseorang mempelajari perubahan-perubahan dalam masyarakat,
yang perlu diketahui adalah arah perubahan masyarakat itu bergerak. Namun,
perubahan dalam
masyarakat itu bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Setelah
meninggalkan faktor itu,
perubahan tersebut akan bergerak pada sesuatu bentuk yang baru
atau bergerak pada bentuk yang sudah ada pada masa lampau. Salah satu jenis perubahan
dapat dilakukan melalui modernisasi.Semua bangsa dan masyarakat di dunia ini
senantiasa terlibat dalam proses modernisasi, meskipun kecepatan dan arah
perubahannya berbeda. Modernisasi merupakan perubahan-perubahan masyarakat yang
bergerak dari keadaan tradisional menuju pada suatu masyarakat modern. Proses
perubahan itu didorong oleh berbagai usaha masyarakat
dalam memperjuangkan harapan dan cita-citanya, yaitu menuju kehidupan
yang lebih baik.
Modern berarti kemajuan yang rasional dalam segala bidang dan meningkatnya
taraf penghidupan masyarakat secara menyeluruh dan merata.Modern juga berarti berkemanusiaan
dan tinggi nilai peradabannya dalam pergaulan hidup di masyarakat. Modernisasi
tidak dapat terjadi begitu saja. Modernisasi memiliki beberapa persyaratan
sebagai berikut. Pertama, cara berpikir yang ilmiah (scientific
thinking). Kedua, sistem administrasi negara yang baik. Ketiga, adanya
sistem pengumpulan data yang baik dan teratur yang terpusat pada suatu lembaga
atau badan tertentu. Hal ini memperlukan penelitian yang berkelanjutan agar data
tidak tertinggal. Keempat, penciptaan suasana yang kondusif dari
masyarakat terhadap modernisasi dengan cara penggunaan alat-alat komunikasi
massa. Kelima, tingkat organisasi yang tinggi yang dapat diartikan
sebagai perilaku disiplin. Apabila syarat-syarat tersebut tidak ada,
perencanaan modernisasi akan terpengaruh oleh kekuatan-kekuatan dari kepentingan-kepentingan
yang ingin mengubah perencanaan tersebut demi kepentingan suatu golongan kecil
dalam masyarakat. Masyarakat
yang mengalami perubahan menuju modernisasi akan ditandai
dengan berkembangnya ilmu pengetahuan baru. Manusia memiliki
kemampuan yang semakin meningkat dalam memahami rahasia-rahasia
alam dan dapat menerapkan pengetahuan ini dalam berbagai
kegiatannya. Masyarakat yang modern sesungguhnya juga merupakan hasil hubungan
antara majunya tingkat rasionalitas dalam
mengkaji kebudayaan.
b. Perilaku Masyarakat Akibat Perubahan Sosial
Perubahan sosial akibat modernisasi mengakibatkan terjadinya pergeseran
gaya hidup dari bentuk masyarakat tradisional ke masyarakat modern.
1) Kehidupan Masyarakat Tradisional
Di Indonesia masyarakat tradisional identik dengan masyarakat desa
yang kehidupannya berada pada sektor agraris. Hal ini dapat dimengerti mengingat
kondisi geografis desa jauh berbeda dibandingkan kota. Selain itu, masyarakat
desa memiliki pola hidup yang bertumpu pada pranata sosial. Menurut Talcott
Parsons, masyarakat tradisional memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a) Afektivitas, yaitu menggambarkan hubungan
antarmanusia yang dilandasi oleh perasaan dan sifat kasih sayang,
tolongmenolong, rasa cinta, dan kesetiaan.
b) Diffuseness, menggambarkan sikap yang
tidak jelas atau tidak terus terang terutama pada hubungan antara pribadi. Masyarakat
tradisional lebih banyak menggunakan bahasa yang
tidak langsung menuju sasaran permasalahan.
c) Partikularisme adalah semua masalah yang
berkaitan dengan sesuatu yang khusus berlaku di suatu tempat atau daerah
tertentu karena adanya hubungan dengan perasaan subjektif dan
rasa kebersamaan.
d) Orientasi kolektif, yang merupakan dampak dari
rasa afektivitas yaitu meningkatkan kerja sama, kebersamaan, tidak sombong, congkak,
ego, dan berbeda pendapat.
e) Askripsi yaitu sifat khusus yang tidak diperoleh
melalui usaha yang disengaja, tetapi semuanya atas dasar kebiasaan dan keharusan.
Sikap inilah yang menyebabkan masyarakat
tradisional mengalami hambatan dalam perkembangannya sehingga
hanya diwarnai oleh sikap tradisionalisme dan konservatisme. Lambatnya
penerimaan pengaruh dari luar dan tingkat pendidikan yang kurang maju
menyebabkan teknologi masyarakatdesa masih bercorak tradisional. Sifat
tradisional tersebut lambat laun akan berubah menjadi modern apabila terjadi
kontak budaya dengan kelompok masyarakat lain yang lebih maju secara lebih
intensif.
2) Kehidupan Masyarakat Modern
Masyarakat modern adalah kelompok sosial yang terusmengalami
perubahan ke arah yang lebih maju, dengan ditandai adanya keterbukaan terhadap
pengaruh dari luar dan pemakaian
teknologi. Dalam kehidupan sekarang, masyarakat modern identik dengan
masyarakat kota. Kota dapat diartikan sebagai suatu kawasan tempat tinggal
berbagai lapisan masyarakat. Kota juga merupakan pusat pemerintahan,
perekonomian, pendidikan, dan berbagai aktivitas sosial lainnya. Pada
masyarakat modern hubungan antara anggota masyarakat bersifat persekutuan dan
tingkat ketergantungan antaranggota masyarakat sangat tinggi akibat adanya
spesialisasi dalam bidangbidang tertentu. Berikut ini ciri-ciri masyarakat
modern menurut
Talcott Parsons.
a) Netralitas afektif, yaitu sikap netral dan acuh
terhadap semua permasalahan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pribadi dan
terbuka setiap menerima kritik dan saran dari luar.
b) Orientasi diri, yaitu senang menonjolkan
diri demi tercapainya kepentingan pribadi maupun kelompok, dan tidak
segan-segan menolak atau menentang sesuatu hal yang dirasa melanggar kepentingannya.
c) Universalisme, yaitu mempunyai sikap
kritis, terbuka, berpikir secara objektif, rasional, dan logis dalam setiap
menanggapi permasalahan-permasalahan baru. Sesuatu yang baru
dipandang hal yang biasa, tidak secara berlebihan. Hal tersebut disebabkan
oleh daya nalar yang dipadukan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
sehingga sesuatu dipandang secara realistis dan objektif.
d) Prestasi, yaitu terjadinya kompetisi di berbagai
bidang, terutama dalam bidang karya cipta. Oleh karena itu, masyarakat modern senang
mengejar prestasi karena prestasi akan mendorong seseorang untuk lebih maju dalam
berkarya.
Masyarakat
modern sangat menghargai seseorang yang memiliki prestasi, terampil, dan
mempunyai keahlian profesi di bidangnya. Hal itu dijadikan dasar dalam menentukan
lapisan sosial. Mobilitas vertikal masyarakat modern lebih terbuka daripada masyarakat
tradisional.
e)
Spesifitas, merupakan ciri yang muncul karena masyarakat modern
mempunyai pola pikir yang kritis, objektif, dan rasional. Setiap hubungan dalam
bidang apa pun yang bersifat pribadi harus jelas dan tegas sehingga masyarakat
modern yang mempunyai bentuk
ikatan
sosial mengutamakan kepentingan pribadi daripada kelompok.
Perilaku
masyarakat modern sangat berbeda dengan masyarakat tradisional. Masyarakat
modern memiliki kecenderungan bersikap progresif yang muncul akibat
tuntutan
dari sebuah kelompok masyarakat yang anggotaanggotanya memiliki tingkat
individualitas yang cukuptinggi. Selain progresif, perilaku masyarakat kota
cenderung
kreatif.
Hal ini didorong oleh semakin tajamnya persaingan dalam kehidupan masyarakat
modern. Dalam menghadapi perubahan sosial, masyarakat memiliki potensi untuk
mengalami tiga macam hal yaitu modernisasi, westernisasi, dan sekularisasi.
Agar dapat
memahami
modernisasi, westernisasi, dan sekularisasi simak info berikut ini.
Maaf
pak saya telat mengumpulkan..
ayo segera bergabung dengan kami hanya dengan minimal deposit 20.000
BalasHapusdapatkan bonus rollingan dana refferal ditunggu apa lagi
segera bergabung dengan kami di i*o*n*n*q*q