Rabu, 10 April 2019

KD 3.2 Tipe-Tipe Masyarakat Dalam Menyikapi perubahan materi kelas 9 smp



1. Tipe-Tipe Masyarakat dalam Menyikapi Perubahan
Dalam menghadapi berbagai perubahan, sikap masyarakat antara satu dan lainnya berbeda. Ada sebagian masyarakat yang menolak perubahan, ada pula yang menyikapinya dengan lebih fleksibel, yaitu dengan mengubah susunan lembaga-lembaga kemasyarakatannya dengan maksud untuk menerima unsur-unsur baru. Adakalanya unsur-unsur baru dan lama tersebut bertentangan sehingga berpengaruh pada nilai dan norma masyarakat. Keadaan ini akan menimbulkan ketegangan di antara para warga masyarakat yang tidak mempunyai saluran ke arah pemecahan masalah atau penyelesaian. Apabila ketidakseimbangan tersebut dapat dipulihkan kembali setelah perubahan terjadi, terjadilah penyesuaian. Apabila kondisi tersebut berlangsung sebaliknya terjadilah disintegrasi sosial.
a. Melakukan Penyesuaian terhadap Perubahan
Berbagai perubahan yang terjadi dalam masyarakat menuntut adanya penyesuaian. Bentuk dari penyesuaian yang dapat dilakukanoleh warga masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial sebagai berikut.
1) Melakukan Asimilasi
Asimilasi adalah suatu proses penerimaan unsur-unsur kebudayaan dari luar yang bercampur dengan unsur-unsur kebudayaan lokal sehingga menjadi unsur kebudayaan baru yang
berbeda. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam proses asimilasi.
Pertama, masyarakat harus dapat menghargai unsurunsur asing dan kebudayaan yang dibawanya. Tidak semua unsur-unsur asing berdampak negatif. Banyak hal yang
dapat kita ambil manfaatnya dari unsur-unsur asing tersebut. Kedua, adanya toleransi antarkebudayaan yang berbeda. Toleransi adalah sikap menghargai kebudayaan atau pendapat yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Adanya toleransi antarkebudayaan memungkinkan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda dapat hidup berdampingan secara damai. Masyarakat yang memiliki rasa toleransi tinggi cenderung mampu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang ada. Ketiga, adanya sikap terbuka. Masyarakat yang senantiasa menghadapi berbagai perubahan yang terjadi
dengan sikap terbuka, akan dapat hidup dengan sejahtera. Hal-hal yang dapat menghambat asimilasi antara lain rendahnya pengetahuan masyarakat tentang kebudayaan lain,
ketakutan terhadap kebudayaan atau unsur-unsur baru, sikap superior yang menilai tinggi kebudayaannya sendiri, perbedaan kepentingan, dan letak geografis yang terisolasi.
2) Menerima Unsur-Unsur Baru
Keseimbangan atau harmoni dalam masyarakat merupakan keadaan yang diidam-idamkan. Dengan keseimbangan, seluruh unsur-unsur kemasyarakatan akan benar-benar berfungsi dan saling mengisi. Setiap terjadi gangguan terhadap keadaan seimbang tersebut, masyarakat dapat menolaknya atau mengubah susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan dengan maksud untuk menerima suatu unsur baru. Sebagai contoh, dewasa ini kebaya menjadi tren kembali untuk dijadikan busana resmi kaum muda. Sebelumnya, ada rasa keengganan untuk mengenakan busana tersebut karena menganggap kebaya merupakan pakaian ”orang dahulu” yang sudah ketinggalan zaman. Namun, melalui berbagai modifikasi akhirnya kebaya menjadi pakaian yang digemari oleh kaum muda dan seolah menjadi busana wajib untuk menghadiri acara-acara resmi. Dapatkah kamu menunjukkan contoh-contoh lainnya? Coba
ungkapkan di depan kelas!
3) Melakukan Akomodasi
Menurut Soerjono Soekanto, istilah akomodasi digunakan dalam dua arti, yaitu sebagai suatu keadaan dan proses. Sebagai suatu keadaan, akomodasi diartikan sebagai kenyataan adanya
suatu keseimbangan hubungan antarindividu atau kelompok dalam berinteraksi. Sebagai suatu proses, akomodasi dimaksudkan sebagai usaha manusia untuk meredakan atau menghindari konflik dalam rangka mencapai kestabilan. Dalam arus perubahan sosial yang sangat deras, muncul tuntutan dan penyesuaian-penyesuaian baru. Apabila tuntutan dan
penyesuaian baru itu kurang atau bahkan tidak dapat diterima dan tidak dilakukan, akan menimbulkan guncangan sosial dalam masyarakat. Guncangan-guncangan tersebut membawa potensi bagi munculnya disintegrasi. Proses akomodasi sebenarnya merupakan upaya untuk mencari terobosan terhadap banyaknya tuntutan dan pertentangan dalam masyarakat. Secara sosiologis, akomodasi sebagai upaya penyelesaian konflik memiliki tujuan yang berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapi, misalnya untuk mengurangi konflik antarindividu atau kelompok sebagai akibat perbedaan paham, untuk mencegah meledaknya konflik untuk sementara waktu, dan agar terjadi kerja sama antarkelompok sosial yang saling terpisah
akibat faktor sosial psikologis.
b. Mengalami Disintegrasi Sosial
Dalam ilmu sosiologi, disintegrasi diartikan sebagai proses terpecahnya suatu kesatuan menjadi bagian-bagian kecil yang terpisah satu sama lain. Disintegrasi sosial adalah suatu proses terpecahnya suatu kelompok sosial menjadi beberapa unit sosial yang terpisah-pisah satu sama lain. Disintegrasi sosial terjadi akibat hilangnya ikatan bersama yang mempersatukan anggota kelompok satu dengan yang lain. Ikatan bersama tersebut dapat berupa nilai-nilai yang dijunjung tinggi seperti norma dan nilai-nilai dasar yang ditaati bersama atau juga berupa sebuah ikatan yang berbentuk organisasi kelembagaan yang menyatukan anggota masyarakat.
1) Bentuk-Bentuk Disintegrasi Akibat Perubahan Sosial
Proses disintegrasi sesungguhnya dapat kita jumpai di sekitar lingkungan kita dalam kehidupan sehari-hari. Gejala disintegrasi di sekitar kita berhubungan dengan masalah masalah sosial seperti pertengkaran antaranggota keluarga, persengketaan antaranggota masyarakat, percekcokan antartetangga, dan perebutan pengaruh. Permasalahan
tersebut jika tidak segera diselesaikan akan memicu peristiwa lain yang lebih besar. Sebagai contoh, pangkal peristiwa perang suku di Mimika Papua pada tahun 2007 adalah seorang istri anggota Koramil Mimika, mengalami luka-luka akibat diterjang anak panah yang diduga milik warga Kampung Kwamki Lama Bawa. Akibatnya, warga melakukan penyerangan terhadap warga Kwamki Lama Bawa yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia.
Dalam lingkup yang lebih besar lagi, gejala disintegrasi dapat pula terjadi di lingkungan sebuah bangsa. Sebagai contoh, terjadinya konflik antaretnis dan munculnya gerakan-gerakan separatis seperti yang terjadi di Aceh dan Papua. Masalah-masalah sosial tersebut
bisa terjadi karena adanya perubahan sosial yang mengancam integritas suatu kelompok.
Di Indonesia, bentuk-bentuk disintegrasi akibat adanya perubahan sosial antara lain sebagai berikut.
a) Pergolakan Daerah
Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, tercatat beberapa peristiwa pergolakan daerah yang terjadi. Pergolakan tersebut terjadi karena adanya kesenjangan ekonomi, kebijakan
politik, ketidakadilan, masalah etnis, masalah agama, dan lainlain. Contoh pergolakan daerah yang terjadi di Indonesia antara lain pemberontakan PRRI/Permesta, RMS, Andi Azis, DI/TII, gerakan separatis GAM atau beberapa peristiwa kerusuhan di Kupang, Poso, Sampit, dan Papua. Berbagai peristiwa pergolakan di Indonesia tersebut merupakan sebuah konsekuensi dari terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersifat majemuk.
b) Demonstrasi
Demonstrasi menjadi suatu fenomena yang sering kita jumpai pada era reformasi seperti saat ini. Perubahan drastis dalam bidang ketatanegaraan yang terjadi pada era reformasi
membawa perubahan pula dalam perilaku masyarakat. Sebelum reformasi bergulir, rakyat tidak dapat langsung menyampaikan segala aspirasinya. Protes dalam bentuk demonstrasi
ditindak keras oleh pemerintah Orde Baru. Namun, saat ini demonstrasi menjadi sebuah hal yang dapat dijumpai setiap saat, akibat adanya iklim demokrasi pada era reformasi.

c) Kriminalitas
Perkembangan teknologi ternyata juga telah menyebabkan perubahan tindak kriminal. Saat ini tindak kriminal tidak hanya sekadar aksi pencopetan di jalan-jalan raya, perampokan,
pencurian di lingkungan perumahan, dan lain-lain. Kemajuan teknologi telah mengakibatkan perubahan modus operasi para pelaku kejahatan. Kejahatan dapat dilakukan dengan canggih
sehingga sulit untuk dilacak. Penipuan melalui telepon sering ditemui. Kamu tentu pernah mendengar seseorang menyerahkan sejumlah uang sebagai pajak karena ia menang undian.
Undian akan diantar jika sang korban telah menyerahkan sejumlah besar uang. Setelah sang korban mentransfer uang, ternyata hadiah undian yang diharapkan tidak kunjung diterima. Itulah salah satu bentuk penyalahgunaan perkembangan teknologi dalam bidang kriminalitas.
d) Kenakalan Remaja
Menurut Fuad Hassan, kenakalan remaja adalah sebuah perbuatan antisosial yang dilakukan oleh seorang remaja yang apabila dilakukan oleh orang dewasa dapat dikategorikan sebagai tindak kejahatan (crime). Secara umum, kenakalan remaja disebabkan oleh hal-hal berikut ini. Pertama, disfungsi keluarga. Disfungsi keluarga dapat diartikan sebagai sebuah kondisi ketika hubungan antaranggota keluarga kurang harmonis atau mengalami keretakan sehingga
remaja kurang mendapat cukup kasih sayang dari keluarga. Dengan demikian, fungsi keluarga sebagai tempat mencurahkan kasih sayang antaranggota keluarga menjadi kabur.
Kedua, kurangnya pendidikan agama. Pendidikan agama sangat penting bagi penanaman kaidah moral dalam diri seorang anak. Jika pendidikan agama tidak diperoleh seorang anak, perkembangannya ke arah kedewasaan menjadi tidak seimbang. Akibatnya, setelah beranjak dewasa, seorang anak akan mengalami kekeringan spiritual dan moral. Ia cenderung tidak dapat membedakan tindakan benar atau salah dan baik atau buruk.
Ketiga, seringnya melihat peristiwa kekerasan. Tayangan televisi bisa jadi merupakan pengantar paling efektif bagi peristiwa-peristiwa kekerasan. Stasiunstasiun televisi banyak menyuguhkan adegan-adegan kekerasan yang sebenarnya berakibat buruk pada perkembangan pribadi remaja. Jika hal ini tidak segera diantisipasi, seorang remaja akan mendapatkan pengaruh negatif dari tayangan kekerasan di layar televisi.
Keempat, lingkungan pergaulan yang tidak kondusif. Lingkungan pergaulan membawa pengaruh besar terhadap sifat, perilaku dan kepribadian seorang remaja. Apabila lingkungan pergaulan seorang remaja bersifat positif, remaja tersebut akan berkepribadian
positif pula. Sebaliknya jika lingkungan pergaulan remaja bersifat negatif, perilakunya pun akan cenderung negatif. Sebagai contoh, seseorang dalam geng yang sering melakukan tindakan yang menyimpang, cenderung akan mengikuti tindakan sama dengan anggota gengnya yang lain. Kenakalan remaja merupakan bentuk tindakan remaja yang meresahkan masyarakat dan remaja itu sendiri. Energi dan potensi yang seharusnya dapat disalurkan untuk kegiatankegiatan positif demi meraih prestasi dalam bidang tertentu, menjadi sia-sia. Lebih jauh lagi, kenakalan remaja yang juga meresahkan anggota keluarga yang lain dapat mengarah pada terjadinya gejala disintegrasi dalam lingkungan keluarga. Hubungan antaranggota keluarga menjadi tidak harmonis akibat adanya kenakalan remaja.
2) Proses Disintegrasi Akibat Perubahan Sosial
Sejauh mana perubahan sosial dapat menimbulkan ketidakserasian, tergantung pada erat tidaknya integrasi antara unsur-unsur kebudayaan yang ada dalam masyarakat tersebut.
Dalam masyarakat yang terintegrasi secara kuat, setiap anggota masyarakat telah melakukan konformitas, yaitu melalui proses penyesuaian diri dengan cara mengindahkan kaidah dan nilai masyarakat. Sebaliknya, dalam masyarakat yang mengalami disintegrasi sosial, sering anggota-anggotanya menyimpang dari kaidah dan nilai-nilai masyarakat. Beberapa masyarakat yang memiliki daya adaptasi tinggi, mampu dengan cepat melakukan pengorganisasian kembali fungsi dan peran dari struktur yang dianggap kurang sesuai. Sebaliknya, masyarakat yang kurang mampu beradaptasi secara cepat, pada umumnya akan kesulitan mengorganisasikan fungsi dan peran dari struktur yang kurang sesuai tersebut.
Proses disintegrasi sebagai akibat perubahan sosial dapat terjadi dalam beberapa peristiwa sebagai berikut.
a) Cultural Lag
Salah satu teori terkenal dalam sosiologi mengenai perubahan dalam masyarakat adalah dikenalkannya istilah cultural lag. Teori ini dikemukakan oleh William F. Ogburn. Dalam teori ini, disebutkan bahwa pertumbuhan kebudayaan tidak selalu sama cepatnya secara keseluruhan, ada bagian yang tumbuh dengan lambat. Perbedaan antara taraf kemajuan dari berbagai bagian dalam kebudayaan dari suatu masyarakat ini dinamakan cultural lag (ketinggalan kebudayaan). Ketinggalan yang mencolok terlihat pada penguasaan teknologi seperti komputer. Komputer merupakan hasil dari perkembangan teknologi di negara-negara yang telah memiliki kebudayaan yang maju. Penggunaan alat tersebut harus pula
disertai dengan ketersediaan peralatan-peralatan khusus untuk memperbaiki apabila rusak, adanya aliran listrik yang mempunyai tegangan tertentu yang konstan, dan lain-lain. Jika
hal-hal tersebut belum tersedia, terjadilah cultural lag karena kurangnya persiapan dalam menyambut teknologi baru. Dari deskripsi di atas dapat diketahui bahwa secara umum
terjadinya cultural lag disebabkan oleh faktor-faktor berikut ini.
 Pertama, kurangnya kemampuan daya pikir dalam sektor yang harus menyesuaikan diri dengan perkembangan sosial.
Kedua, adanya hambatan-hambatan terhadap perkembangan pada umumnya.
Ketiga, heterogenitas masyarakat. Dalam hal ini berarti ada beberapa golongan masyarakat yang memang sudah siap mental menerima perubahan dari masyarakat luar dan sebaliknya ada sebagian masyarakat yang belum siap menerima perubahan tersebut. Keempat, kurangnya kontak dengan budaya material masyarakat lain. Hal ini bisa juga berarti bahwa pihak pengambil kebijakan dalam masyarakat perlu meningkatkan kontak langsung dengan budaya material dari masyarakat lain. Tidak mudah mengatasi persoalan cultural lag. Paling tidak, alam pikiran manusia harus mengalami perubahan terlebih dahulu, yaitu dari alam pikiran
tradisional ke alam pikiran modern. Alam pikiran modern ditandai oleh beberapa hal, misalnya sifatnya yang terbuka terhadap pengalaman baru, terbuka terhadap perubahan dan pembaruan, kemampuan untuk berpikir luas dan pendidikan yang mencukupi. Semakin terdidik seseorang itu, akan semakin terbuka pula daya pikirnya.
b) Mestizo Culture
Mestizo culture (percampuran kebudayaan) merupakan suatu proses percampuran unsur kebudayaan yang satu dengan unsur kebudayaan lainnya yang mempunyai warna dan sifat
yang berbeda. Ciri dari perubahan sosial ini adalah sifatnya formal dan hanya dapat meniru bentuknya, tetapi tidak mengerti arti sesungguhnya. Masyarakat desa yang mulai tersentuh modernisasi biasanya gemar memiliki benda-benda hasil teknologi modern, seperti mesin cuci, komputer, dan kulkas sebagaimana layaknya gaya hidup masyarakat kota yang sering mereka lihat dari tayangan televisi. Benda-benda ini mereka beli hanya untuk menaikkan status sosial agar dianggap sebagai orang modern. Lebih parah lagi jika ternyata mereka tidak mampu menggunakan barang-barang teknologi tersebut dan tidak mengetahui kegunaan dan manfaatnya. Dari contoh di atas terlihat bahwa perubahan yang terjadi merupakan perubahan suatu hal baru yang dianggap dapat menaikkan status sosial sebagai lambang pola hidup modern, tanpa menggunakan kontrol. Padahal norma yang dikandung masih tradisional, hanya bentuk luarnya yang modern. Inilah yang dimaksud dengan mestizo culture.
Mestizo culture ditandai dengan meningkatnya pola konsumsi masyarakat serta terjadinya demonstrasi efek (pamer kekayaan) yang semakin besar karena pengaruh iklan-iklan
produk modern. Kondisi psikologis orang yang terkait dalam gejala mestizo culture ini mudah mengalami keguncangan dan ketidakpuasan.
c) Anomi
Perubahan sosial dapat menyebabkan terjadinya suatu keadaan saat norma-norma atau nilai-nilai sosial yang dianut oleh masyarakat menjadi pudar padahal norma-norma atau nilai-nilai baru yang akan menggantikannya belum terbentuk. Keadaan ini merupakan suatu masa kritis dalam masyarakat yang disebut anomi. Jadi, anomi adalah suatu keadaan saat tidak ada pegangan terhadap norma yang baik dan apa yang buruk bagi masyarakat. Perubahan sosial dalam masyarakat memang menimbulkan berbagai dampak yang mempengaruhi perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan-perubahan tersebut. Tipe-tipe masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial beraneka ragam. Keragaman ini berhubungan erat dengan kesiapan masyarakat yang bersangkutan dalam menghadapi perubahanperubahan tersebut. Apabila masyarakat siap menghadapi perubahan, perubahan-perubahan tersebut akan membawa kemajuan bagi kebudayaan masyarakat. Jika kondisi yang terjadi sebaliknya, akan terjadi ketidakharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Perilaku Masyarakat Akibat Perubahan Sosial Budaya
Semua kelompok masyarakat tidak pernah hidup berdiri sendiri. Mereka senantiasa berada di tengah masyarakat lain dan mengadakan kontak dengan masyarakat lain. Kontak yang terjadi secara terus-menerus dan bersifat konstan akan menyebabkan terjadinya perubahan sosial secara berangsurangsur. Perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh faktor dari luar ini dapat berdampak positif atau negatif. Apabila perubahan itu terjadi dalam situasi yang aman dan tertib tanpa menimbulkan kegoyahan pada masyarakat, maka akan terjadi perubahan yang bersifat positif. Apabila suatu perubahan menimbulkan kegoyahan atau konflik dalam masyarakat, ini berarti perubahan tersebut bersifat negatif.
a. Modernisasi sebagai Wujud Perubahan Sosial
Apabila seseorang mempelajari perubahan-perubahan dalam masyarakat, yang perlu diketahui adalah arah perubahan masyarakat itu bergerak. Namun, perubahan dalam
masyarakat itu bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Setelah meninggalkan faktor itu,
perubahan tersebut akan bergerak pada sesuatu bentuk yang baru atau bergerak pada bentuk yang sudah ada pada masa lampau. Salah satu jenis perubahan dapat dilakukan melalui modernisasi.Semua bangsa dan masyarakat di dunia ini senantiasa terlibat dalam proses modernisasi, meskipun kecepatan dan arah perubahannya berbeda. Modernisasi merupakan perubahan-perubahan masyarakat yang bergerak dari keadaan tradisional menuju pada suatu masyarakat modern. Proses perubahan itu didorong oleh berbagai usaha masyarakat
dalam memperjuangkan harapan dan cita-citanya, yaitu menuju kehidupan yang lebih baik.
Modern berarti kemajuan yang rasional dalam segala bidang dan meningkatnya taraf penghidupan masyarakat secara menyeluruh dan merata.Modern juga berarti berkemanusiaan dan tinggi nilai peradabannya dalam pergaulan hidup di masyarakat. Modernisasi tidak dapat terjadi begitu saja. Modernisasi memiliki beberapa persyaratan sebagai berikut. Pertama, cara berpikir yang ilmiah (scientific thinking). Kedua, sistem administrasi negara yang baik. Ketiga, adanya sistem pengumpulan data yang baik dan teratur yang terpusat pada suatu lembaga atau badan tertentu. Hal ini memperlukan penelitian yang berkelanjutan agar data tidak tertinggal. Keempat, penciptaan suasana yang kondusif dari masyarakat terhadap modernisasi dengan cara penggunaan alat-alat komunikasi massa. Kelima, tingkat organisasi yang tinggi yang dapat diartikan sebagai perilaku disiplin. Apabila syarat-syarat tersebut tidak ada, perencanaan modernisasi akan terpengaruh oleh kekuatan-kekuatan dari kepentingan-kepentingan yang ingin mengubah perencanaan tersebut demi kepentingan suatu golongan kecil dalam masyarakat. Masyarakat yang mengalami perubahan menuju modernisasi akan ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan baru. Manusia memiliki kemampuan yang semakin meningkat dalam memahami rahasia-rahasia alam dan dapat menerapkan pengetahuan ini dalam berbagai kegiatannya. Masyarakat yang modern sesungguhnya juga merupakan hasil hubungan antara majunya tingkat rasionalitas dalam
mengkaji kebudayaan.
b. Perilaku Masyarakat Akibat Perubahan Sosial
Perubahan sosial akibat modernisasi mengakibatkan terjadinya pergeseran gaya hidup dari bentuk masyarakat tradisional ke masyarakat modern.
1) Kehidupan Masyarakat Tradisional
Di Indonesia masyarakat tradisional identik dengan masyarakat desa yang kehidupannya berada pada sektor agraris. Hal ini dapat dimengerti mengingat kondisi geografis desa jauh berbeda dibandingkan kota. Selain itu, masyarakat desa memiliki pola hidup yang bertumpu pada pranata sosial. Menurut Talcott Parsons, masyarakat tradisional memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a) Afektivitas, yaitu menggambarkan hubungan antarmanusia yang dilandasi oleh perasaan dan sifat kasih sayang, tolongmenolong, rasa cinta, dan kesetiaan.
b) Diffuseness, menggambarkan sikap yang tidak jelas atau tidak terus terang terutama pada hubungan antara pribadi. Masyarakat tradisional lebih banyak menggunakan bahasa yang
tidak langsung menuju sasaran permasalahan.
c) Partikularisme adalah semua masalah yang berkaitan dengan sesuatu yang khusus berlaku di suatu tempat atau daerah tertentu karena adanya hubungan dengan perasaan subjektif dan
rasa kebersamaan.
d) Orientasi kolektif, yang merupakan dampak dari rasa afektivitas yaitu meningkatkan kerja sama, kebersamaan, tidak sombong, congkak, ego, dan berbeda pendapat.
e) Askripsi yaitu sifat khusus yang tidak diperoleh melalui usaha yang disengaja, tetapi semuanya atas dasar kebiasaan dan keharusan. Sikap inilah yang menyebabkan masyarakat
tradisional mengalami hambatan dalam perkembangannya sehingga hanya diwarnai oleh sikap tradisionalisme dan konservatisme. Lambatnya penerimaan pengaruh dari luar dan tingkat pendidikan yang kurang maju menyebabkan teknologi masyarakatdesa masih bercorak tradisional. Sifat tradisional tersebut lambat laun akan berubah menjadi modern apabila terjadi kontak budaya dengan kelompok masyarakat lain yang lebih maju secara lebih
intensif.
2) Kehidupan Masyarakat Modern
Masyarakat modern adalah kelompok sosial yang terusmengalami perubahan ke arah yang lebih maju, dengan ditandai adanya keterbukaan terhadap pengaruh dari luar dan pemakaian
teknologi. Dalam kehidupan sekarang, masyarakat modern identik dengan masyarakat kota. Kota dapat diartikan sebagai suatu kawasan tempat tinggal berbagai lapisan masyarakat. Kota juga merupakan pusat pemerintahan, perekonomian, pendidikan, dan berbagai aktivitas sosial lainnya. Pada masyarakat modern hubungan antara anggota masyarakat bersifat persekutuan dan tingkat ketergantungan antaranggota masyarakat sangat tinggi akibat adanya spesialisasi dalam bidangbidang tertentu. Berikut ini ciri-ciri masyarakat modern menurut
Talcott Parsons.
a) Netralitas afektif, yaitu sikap netral dan acuh terhadap semua permasalahan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pribadi dan terbuka setiap menerima kritik dan saran dari luar.
b) Orientasi diri, yaitu senang menonjolkan diri demi tercapainya kepentingan pribadi maupun kelompok, dan tidak segan-segan menolak atau menentang sesuatu hal yang dirasa melanggar kepentingannya.
c) Universalisme, yaitu mempunyai sikap kritis, terbuka, berpikir secara objektif, rasional, dan logis dalam setiap menanggapi permasalahan-permasalahan baru. Sesuatu yang baru
dipandang hal yang biasa, tidak secara berlebihan. Hal tersebut disebabkan oleh daya nalar yang dipadukan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga sesuatu dipandang secara realistis dan objektif.
d) Prestasi, yaitu terjadinya kompetisi di berbagai bidang, terutama dalam bidang karya cipta. Oleh karena itu, masyarakat modern senang mengejar prestasi karena prestasi akan mendorong seseorang untuk lebih maju dalam berkarya.
Masyarakat modern sangat menghargai seseorang yang memiliki prestasi, terampil, dan mempunyai keahlian profesi di bidangnya. Hal itu dijadikan dasar dalam menentukan lapisan sosial. Mobilitas vertikal masyarakat modern lebih terbuka daripada masyarakat tradisional.
e) Spesifitas, merupakan ciri yang muncul karena masyarakat modern mempunyai pola pikir yang kritis, objektif, dan rasional. Setiap hubungan dalam bidang apa pun yang bersifat pribadi harus jelas dan tegas sehingga masyarakat modern yang mempunyai bentuk
ikatan sosial mengutamakan kepentingan pribadi daripada kelompok.
Perilaku masyarakat modern sangat berbeda dengan masyarakat tradisional. Masyarakat modern memiliki kecenderungan bersikap progresif yang muncul akibat
tuntutan dari sebuah kelompok masyarakat yang anggotaanggotanya memiliki tingkat individualitas yang cukuptinggi. Selain progresif, perilaku masyarakat kota cenderung
kreatif. Hal ini didorong oleh semakin tajamnya persaingan dalam kehidupan masyarakat modern. Dalam menghadapi perubahan sosial, masyarakat memiliki potensi untuk mengalami tiga macam hal yaitu modernisasi, westernisasi, dan sekularisasi. Agar dapat
memahami modernisasi, westernisasi, dan sekularisasi simak info berikut ini.



Maaf pak saya telat mengumpulkan..

1 komentar:

  1. ayo segera bergabung dengan kami hanya dengan minimal deposit 20.000
    dapatkan bonus rollingan dana refferal ditunggu apa lagi
    segera bergabung dengan kami di i*o*n*n*q*q

    BalasHapus

Pengalaman Asistensi Mengajar di SMK N 02 Probolinggo

  ESSAY ASISTENSI MENGAJAR SMKN 02 PROBOLINGGO   Saya Arridlotun Nurushibyan yang diamanahi sebagai guru mata pelajaran CNC akan menceri...